Pages

Labels

Rabu, 21 Desember 2016

17 KILOMETER

Keringat mengucur di seluruh tubuh, tak tau mana bedanya air yang disiram ke kepala dengan keringat, nafas terhuyung-huyung, pandangan mata mulai berkunang-kunang, ditambah hari Minggu yang cerah benderang itu, sinar matahari cukup terik memanaskan hawa aspal. Guru olahraga dan seorang anggota tim pengganti yang mengiringi dengan sepeda motor tanggap melemparkan aqua bila ada permintaan dari kami. Hanya beberapa orang yang masih serentak bersuara “kiri, kiri, kiri-kanan-kiri” bersama derap langkah kaki, aku tak bisa ikut bersuara lagi sejak dari Jalan Batang Tuaka aku tak minta diganti. Meskipun lomba ini disebut gerak jalan, tapi setiap tim yang bertanding berlari untuk mencapai finish, kalau berjalan mungkin butuh waktu seharian untuk sampai ke garis finish.
Sudah sampai Jalan Malagas satu perempatan didepannya Jalan Gadjah Mada, ratusan orang sudah menanti di sana, dan sudah ada Regu Dinas Pemadam Kebakaran Tembilahan yang melintas finish untuk memastikan sebagai juara lomba ini. Pimpinan regu kami terus berseru membangkitkan semangat, untuk berusaha mengejar rival kami, Regu SMA 1 Tembilahan Kota, mereka sudah menyalip kami sebelum masuk ke Jalan Malagas tadi. Ahh.. meskipun sudah berusaha, jarak tak berubah, toh tak mungkin kami berlari sprint mengejar lawan, tak ada tenaga lagi.
Penonton yang menunggu di garis finish bersorak-sorai menyemangati tim-tim yang akan mencapai finish. Selang kira-kira 10 detik setelah tim SMA 1 Tembilahan Kota mencapai finish, kami pun akhirnya melintas finish juga. Selepas melewati garis finish aku langsung menepi dan berbaring di aspal jalan. Sempat terasa hampir kehilangan kesadaran, segera aku buka mata agar otak tetap bekerja, kuambil sebotol air dan meminum setengahnya, setengahnya lagi kusiram ke kepalaku. Hari itu sepertinya aku sudah melampaui batas kemampuan fisik tubuhku. Bagi kami anak muda yang masih agak emosional bersikap, Peringkat ke-3 lomba rasanya masih tak cukup kalau harus dibelakang rival yang selama perjalanan saling kejar-mengejar dan provokasi.
Gerak Jalan 17 Kilometer, hanya kurang 28 Kilometer lagi untuk layak disebut Marathon. Lomba ini diikuti oleh semua instansi pemerintah daerah dan sekolah menengah yang ada di Inhil, total pesertanya ratusan. Aku tak tau percis apakah memang total jaraknya 17 kilometer. Yang jelas rute yang harus dilewati setiap regu mulai start di Jalan Gajah Mada depan Polres Indragiri Hilir dan Dinas Pendapatan Daerah (sekarang dirubuhkan menjadi taman kota), melewati Jalan Jend. Sudirman, Jl. H. Arif parit 11 lurus sampai ke simpang Parit 6, belok ke kanan di jalan Makam Pahlawan, belok ke kanan ke Jalan Baharuddin Yusuf  (Telaga Biru), sampai ke ke simpang empat Jl. Batang Tuaka, masuk ke Jl. Batang Tuaka hingga pertigaan, belok ke Jalan Pembangunan, terus sampai ke Stadion Sungai Beringin, masuk ke Jalan Pendidikan menuju ke utara ke arah sungai Indragiri, belok kanan ke Jalan Sudirman, setelah lewat Parit 13 belok kanan ke Jalan Malagas, kemudian belok kiri kea rah Jalan Gajah Mada hingga finishnya kembali ke tempat start dimulai.
Aku tidak ingat jelas iven ini digelar dalam rangka memperingati apa. Yang jelas, waktu itu tahun 2008, belum genap setahun aku berstatus pelajar SMA. Hanya dua orang siswa kelas X yang mewakili sekolah kami, termasuk aku. Waktu mengambil nilai olahraga lari jarak jauh keliling Jalan Saptamarga sampai Jalan Parit Enam, kebetulan aku finish pertama dengan waktu yang relatif jauh meninggalkan kawan sekelas lainnya. Sejak SMP kalau di jam olahraga disuruh berlari jarak jauh, saya selalu bersaing di posisi pertama. Yah, ini berlari jarak jauh, anda tidak perlu memiliki power untuk berlari dengan cepat seperti dalam sprint, yang dibutuhkan adalah stamina dan endurance untuk terus berlari tanpa henti. Kalau berlari sprint dengan tinggi badan yang belum sampai 155 cm itu, satu langkah teman-teman lainnya sama dengan dua langkah kaki saya. Memang bila dibandingkan dengan postur siswa laki-laki lainnya, aku tergolong pendek.
Dua minggu sebelum perlombaan kami diseleksi oleh dua orang guru olahraga, aku lupa nama bapak-bapak tersebut, tapi masih ingat wajahnya, bulan Ramadhan kemarin kebetulan bertemu dan tegur sapa dengan salah satunya di Masjid Al-Huda, tapi tak mungkin aku bertanya “siapa nama bapak? Saya lupa!” bisa kualat nanti saya, hehe. Ada belasan orang yang diseleksi dari kelas X dan XI. Tiga hari berturut-turut kami diseleksi dengan latihan lari setiap hari di waktu pagi, saya pun harus bawa baju ganti setiap hari, karena setelah pukul 10.00 pagi kami kembali belajar seperti biasa. Latihannya adalah berlari dari sekolah menuju Parit 3 dan kembali lagi, total jarak kami harus berlari kira-kira sekitar 7-9 Kilometer.
Satu regu yang akan dipilih beranggotakan sepuluh orang ditambah satu orang cadangan. Dihari ketiga diumumkan orang-orang yang diikutkan dalam perlombaan. Hanya aku dan Rio Harahap yang terpilih dari kelas X, selebihnya dari kelas XI. Pimpinan regu kami Andika orangnya tinggi kurus, kemudian anggota lainnya; Reza berkulit gelap seperti aku namun badannya berisi dan kekar masih keluarga dari Andika; Daston orangnya tinggi besar, dia wajar terpilih karena memang atlet sepakbola, tergabung dalam Tim Piala Suratin (turnamen sepakbola pelajar Indonesia) mewakili Inhil, dia adalah momok kalau tim kelasku uji coba bermain bola melawan kelasnya; kemudian ada Bayu, orang yang ternyata masih bubuhan (kerabat) jauh denganku, baru tahu ketika ada kumpul keluarga di Desa Pengalihan Enok; Rio, orang batak tapi berbahasa melayu karena besar di Guntung, dia ini berkesan karena baru beberapa minggu masuk sekolah, eh nantang aku dan beberapa orang teman sekelas kelahi karena masalah sepele, aku hanya menghindar karena ndak mungkin lawan orang yang melihat wajahnya saja, aku harus mendongak ke atas; Saide, beliau siswa aktif dalam Pramuka dan OSIS, sekarang aku dapat informasi kalau beliau lagi melanjutkan S2 dibiayai LPDP, subhanallah mungkin dia orang pertama dari sekolah kami yang dapat Beasiswa LPDP, beasiswa yang aku sudah satu kali gagal mendapatkannya; selebihnya aku tidak ingat nama atau ciri-cirinya.
Hari-hari berikutnya paska seleksi kami masih tetap latihan ringan, membuat yel-yel, dan melatih kekompakan berlari. Formasi kami tiga berbanjar, kami berbaris berdasarkan tinggi badan, yang berpostur lebih tinggi berada didepan, tentunya aku yang paling kecil berada dibelakang. Pimpinan regu berada di samping sambil membawa peluit sebagai aba-aba. Kami diberikan seragam kaos putih bernomor punggung beserta celana pendek berwarna oranye, baju itu agak kebesaran untuk tubuhku yang kecil. Kami juga diberikan tips dalam berlari agar tetap menghemat energi, meskipun bagiku itu tak banyak membantu. Tanpa sepengetahuan guru, salah seorang anggota tim menyarankan kami untuk doping dengan cara meminum cairan infus, bagiku itu tidak masuk akal karena tak ada penjelasan medisnya.
Dihari lomba, minggu tepatnya, dua hari sudah kami hanya latihan ringan untuk recovery tenaga. Pagi itu saya kenakan sepatu favorit saya merk North Star berwarna hitam putih produksi Bata menutup hingga mata kaki mirip sepatu pemain basket, selama SMA hanya sekali saya membeli sepatu selain merk tersebut, harganya relatif murah waktu itu hanya seharga Rp. 45.000. Berangkat menuju ke lapangan Jalan Gajah Mada. Rupanya ide tentang cairan infus tersebut memang direalisasikan oleh kawan-kawan, kami berkumpul di belakang Gedung Dispenda yang sudah kosong karena relokasi, masing-masing minum tetesan air infus tersebut, aku tetap menolak, ada beberapa orang lagi yang juga menolak, dibungkus infusnya tertulis NaCl, bukannya itu Natrium Klorida atau garam, entah apa efeknya aku tak tahu dan tak ingin mencari tahu.
Doorr... bunyi pistol dengan selongsong kosong menggema di udara, setiap regu berlari sesuai urutan. Kami start dari posisi belasan, berdasarkan undian, meskipun aku merasa itu tidak fair, tapi tidak masalah toh ketika lari di jam olahraga sekolah startnya juga tidak berbarengan. Polisi dengan motor besar mengiringi rombongan peserta lomba, di setiap persimpangan selalu ada Polantas yang mengatur arus lalu lintas, dua orang guru kami dan anggota cadangan bersiap menyusul dengan sepeda motor membawa air kotak dan botol beserta gula merah. Gula merah, ini yang aku anggap bermanfaat untuk menjaga tenaga dan mengurangi kehausan selama berlari. Setelah start, tim-tim di belakang kami melaju cepat, kulihat regu dari dinas pemerintah kebanyakan sudah berumur 30-40an, regu-regu lain terus melaju kencang, kami tetap berlari seperti biasa, dengan ritme yang sama, tidak mau buru-buru menaikkan kecepatan. Sekitar 40 meter di depan kami ada regu SMA 1 Tembilahan Kota juga berlari konstan, mereka start lebih dulu dari pada kami.
Riuh kota Tembilahan semarak karena iven ini, masyarakat sepanjang jalan bersorak sorai atau sekedar melihat peserta berlari, sekali-sekali penonton menyapa peserta yang dikenalnya memberikan semangat. Regu Dinas Pemadam Kebakaran melaju menyalip kami dengan cukup cepat, anggotanya masih usia 20-30 tahunan, wajar sepertinya mereka punya fisik sekaligus stamina yang kuat, mereka telah teruji karena di Tembilahan sering terjadi kebakaran, dampak pemadaman listrik bergiliran serta rumah-rumah warga banyak yang terbuat dari kayu dan berhimpitan.
Mulai dari Jalan H. Arief satu per satu regu sudah melambat dan berjalan kaki, tak pelak kami yang berlari dengan ritme yang tetap ini mengejar satu per-satu regu lain, pun juga rival kami didepan karena jarak kami masih tak berubah. Rivalitas ini sebenarnya kalau diingat-ingat, tak terlalu penting, hanya ego anak muda saja, dan karena kedua sekolah sama-sama terbaik di Inhil, meskipun sekolahku lebih dianggap favorit oleh sebagian besar masyarakat, namun tak ada survey yang membuktikannya ini hanya rasa-rasa saja hehe. Setiap sekolah tentu bagus karena mendidik generasi muda bangsa.
 Disaat regu SMA 1 Tembilahan Kota melambat di Jalan Telaga Biru, kami masih berlari dan berhasil mengejar mereka. Mungkin karena yel-yel kami yang dikeraskan ketika menyalip, rival menjadi terprovokasi untuk kembali mengejar. Di paruh kedua perjalanan dari Parit 10 mulai terasa kesulitan, keringat sudah mengucur deras, silih berganti anggota regu minta rehat diganti dengan cadangan yang mengiringi dengan motor, begitupun aku. Berulang kali air dilemparkan ke anggota tim. Panitia terus mengawasi dengan sepeda motor mengiringi peserta di perjalanan.
Kami berada diurutan kedua, sekitar 200 meter didepan kami ada regu pemadam kebakaran, aku dapat melihatnya saat melintasi Jalan Batang Tuaka. Di belakang, regu rival juga masih sedia membuntuti kami, saat kami rehat mereka berlari, setelah jarak semakin dekat kami pun berlari, mereka rehat kami terus berlari sampai mayoritas anggota tim meminta untuk melambat. Pimpinan regu tak lagi aktif meniup peluit, siapa yang tahan dengan nafas terseok-seok sambil meniup peluit. Hanya ketika kami mulai berlari dan berhenti saja peluit ditiupkan. Di Jalan Pembangunan, aspalnya hitam mengkilap permukaan jalannya mulus, rumah-rumah masih jarang, karena pemukiman waktu itu belum banyak, rival kami berhasil memperkecil jarak dan mengejar kami, namun ketika mereka rehat, giliran kami yang mengejar, terus berulang.
Di Jalan Pendidikan kami tetap di posisi kedua, namun sekarang regu Dinas Pemadam Kebakaran sudah sangat jauh di ujung Jalan Pendidikan, matahari pun semakin terik di setengah tinggi menuju posisi vertikal ke arah bumi. Kami tetap berusaha menjaga jarak yang tidak terlalu jauh dengan regu di posisi ketiga. Kali ini berbeda tim kami dan rival tak ada bersuara dengan yel-yelnya lagi, bahkan kami sama-sama berjalan cepat, tidak berlari seperti biasa. Botol air yang dilempar kearahku, tidak aku peruntukkan untuk minum, malah untuk membasahi kepala. Namun seperti biasa, langkah kami setim masih seirama, “kiri, kiri, kiri-kanan-kiri”.
Tepat di Jalan Malagas, kami disalip oleh rival, tanpa suara, semua orang lelah, kami hanya berjalan cepat saja, mereka tampaknya masih memiliki sedikit tenaga untuk berlari kecil meskipun hanya beberapa meter. Dari jauh terlihat orang-orang ramai di sekitaran garis finish, pimpinan regu dan beberapa orang yang masih kuat menyeru untuk menaikkan kecepatan, masih banyak yang menolak karena tak sanggup, aku pun sebenarnya tak sanggup lagi tapi jikalau yang lain melaju berlari aku akan ikut. Ingin rasanya segera terbaring penuh, menghela nafas, terbayang-bayang menyantap air buah kelapa dengan campuran sirup Cocopandan hmm.. segarnya.
“Finis, Juara ke-3, SMA Negeri 1 Tembilahan Hulu, teriak spektator acara sewaktu kami melintas di garis finis, sayangnya tak ada supporter kami yang hadir, hanya dua orang guru olahraga yang sedia mendampingi dan memberikan semangat. Hampir shutdown otakku sewaktu berbaring di aspal, tak tau apa penyebabnya tetapi hal itu terasa. Nafas terhuyung-huyung, di sebelah ku berjejer rekan setim ada yang terbaring dan terduduk kelelahan. Aku tak ingat pastinya pukul berapa waktu itu, yang jelas sewaktu start dari pukul delapan kami tiba di finis sekitar kurang dari pukul 10.00. Hampir dua jam waktu kami mengelilingi Kota Tembilahan dari barat ke timur, hilir ke hulu, bila ini dilakukan dengan sepeda motor dengan kecepatan standar mungkin tak kurang dari 20 menit, Tembilahan bukan kota yang luas, tetapi padat penduduknya.

Begitulah, terkadang tanpa sadar kita melewati batas kemampuan, atau mungkin memang sebenarnya kita mampu untuk melakukannya. Aku membayangkan para atlet Marathon yang harus berlari 45 Kilometer dengan catatan waktu hanya 2 Jam lebih, itu sangat luar biasa, tentunya atlet Marathon tekun berlatih sehingga mampu mencapai ketahanan fisik seperti itu. Kita manusia sebenarnya diberikan kemampuan yang merata oleh tuhan, meski ada kelebihan masing-masing seperti kelebihan secara fisik, kecerdasan intelektual, psikomotor, emosional sosial dsb. Itu hanyalah bekal, hal yang akan meningkatkan kapasitas kita adalah setiap gerakan yang kita lakukan, apakah itu usaha, latihan, dan ketekunan, bahkan dengan ini orang yang biasa-biasa saja dapat meningkat jauh melebihi kemampuannya, banyak aku temukan orang-orang seperti ini.

0 Coment:

Posting Komentar